Ulasan Buku Yellowface oleh R. F. Kuang

Daftar Isi
ulasan buku Yellowface karya R F Kuang edisi terjemahan Bahasa Indonesia

IT HOOKED YOU UP SINCE THE FIRST SENTENCE

Yellowface merupakan karya Rebecca F. Kuang ke-empat setelah Babel.

Setelah berkutat cukup lama di genre fantasi, Kuang melakukan pivot cukup ekstrem ke genre literary fiction.

I had so much fun branching into literary fiction.... and after four books of big, heavy, epic fantasy doorstoppers, i thought want to try different narative voice for a while. Strombo's Lit with R.F. Kuang, Author of 'Yellowface'

Premisnya sederhana:

Bagaimana rasanya menjadi penulis terkenal dengan buku hasil mencuri karya orang lain dan mengakuinya sebagai tulisan kita sendiri?

Di Goodreads, buku ini mendapat ulasan yang beragam.

Kebanyakan sih, negatif.

Namun, Kuang berhasil memberi saya kenikmatan tersendiri saat membaca Yellowface, utamanya karena Yellowface dinarasikan menggunakan sudut pandang orang pertama.

Buku ini hadir dengan membahas tentang ambisi, kecemburuan, cancel culture, dan dinamika dalam industri penerbitan.

Artikel ini mungkin mengandung spoiler untuk beberapa bagian dalam buku. So, proceeds with caution!

Informasi Buku

Informasi Detail
Penulis R. F. Kuang
Penerjemah Poppy D. Chusfani
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Tanggal Terbit 1 September 2023
ISBN 9786020672793
Kategori Literary Fiction, Misteri
Jumlah Halaman 336 halaman
Rating Pribadi 4.7 / 5

Isi Buku

Dikemas dalam 24 bab, Yellowface mengisahkan bagaimana kehidupan June Hayward berubah 180 derajat setelah Ia menyaksikan kematian Athena Liu, temannya sesama penulis.

Ia mengambil, memoles, dan menerbitkan manuskrip Athena yang tidak diketahui siapapun selain mereka berdua, sebagai novel karyanya sendiri, dan diterbitkan dengan tajuk "The Last Front".

Buku ini berhasil menjadi best-seller di berbagai tempat, memberi June begitu banyak uang serta pengakuan yang selalu dia dambakan, terutama dari keluarganya.

Namun, hal itu tidak berlangsung lama.

Berawal dari sebuah cuitan di media sosial, kecurigaan dan tuduhan tentang siapa penulis sebenarnya novel itu mulai muncul dan mengancam keberlangsungan karir June sebagai penulis.

Industri penerbitan bukanlah industri ramah akan skandal.

June akan melakukan apapun demi menjaga namanya bersih dari segala tuduhan, dan menunjukkan pada dunia bahwa bakatnya menyamai Athena Liu.

Ulasan

Terjemahan

Alih bahasa Yellowface dilakukan oleh Poppy D. Chusfani.

Bahasa yang dipakai mudah diikuti, dan tidak ada typo.

Meski begitu, terdapat beberapa detail yang dihilangkan.

Sebagai perbandingan:

She regularly tweets career updates and quirky jokes to her seventy thousand followers, but she rarely @'s other people.
Secara berkala, dia menulis di Twitter soal perkembangan karirnya, tapi jarang sekali @ orang lain.

Di versi Bahasa Inggris, Kuang menulis bahwa Athena memiliki 70.000 pengikut di media sosial, namun ini tidak muncul di versi Bahasa Indonesia.

Well, itu yang masih saya ingat.

Mungkin terdapat beberapa perubahan detail lain yang saya lewatkan.

Overall, tidak ada yang aneh dengan diksi yang digunakan dan saya jadi belajar banyak terjemahan kosakata ketika membandingkannya dengan versi Bahasa Inggris.

Mengenai Istilah Yellowface

Jadi, istilah Yellowface senada dengan Blackface di barat.

Yellowface merujuk pada praktik dimana seseorang memakai makeup agar menyerupai penampilan dari orang Asia.

Hal ini dianggap offensive.

Yellowfacing yang dilakukan oleh June Hayward, wanita kulit putih berusia 27 tahun asal Philadelphia, adalah mengubah nama pena-nya menjadi:

JUNIPER SONG

Nama yang.... terdengar Asia.

Keputusan ini berkaitan dengan tema yang diusung buku The Last Front:

Kontribusi 140.000 pekerja dari Korps Buruh Tiongkok yang direkrut oleh AD Inggris dan dikirimkan ke garis depan Sekutu pada Perang Dunia I.

Penerbit mengusulkan nama pena baru ini agar June bisa:

  • Lebih diterima pasar orang Asia.
  • Menghindari kegemparan netizen terkait asal-usulnya.

Intinya satu:

Raup uang sebanyak mungkin.

Keputusan yang akan June sesali nantinya.

June Hayward Si Penjahat

MENCURI? BUKAN! INI KARYA KOLABORASI!

Sebelumnya..

Pernah mendengar soal paradoks Kapal Theseus?

Bunyinya seperti ini:

Apakah suatu benda masih dapat dianggap sebagai benda yang sama setelah seluruh komponennya diganti sedikit demi sedikit, dari waktu ke waktu?

Karena diceritakan menggunakan sudut pandang orang pertama, kita jadi memahami cara kerja otak seorang June.

Dari sejak bab awal, kita dicekoki pemahaman June bahwa tindakan yang dia lakukan itu "justified".

Potong sana, potong sini. Ubah sana, ubah sini.

Ia dengan tekun meriset soal perang dunia pertama, politik ras Asia, dan sejarah buruh Cina dari banyak literatur.

Hingga bagian mana yang ditulis Athena maupun June melebur menjadi satu.

June, dalam kalimatnya sendiri, mengatakan bahwa dia bisa dibilang lebih paham soal tema utama yang diusung buku The Last Front dibanding Athena, setelah semua riset yang dia lakukan.

Masalahnya?

June menganggap The Last Front sebagai hasil kolaborasinya dengan Athena.

Kolaborasi sastra yang belum pernah dilakukan. Jadi memang kenapa kalau gagasannya hasil curian? Memang kenapa kalau aku mengambil semuanya?

Pembelaannya sangat culas:

...aku harus menyelesaikan, kemudian merapikan, cerita Athena. Lalu, siapa tahu? Mungkin aku juga bisa mengusahakan buku ini terbit demi dirinya.
Aku tidak memiliki bukti tertulis bahwa Athena menginginganku menyelesaikan bukunya, meskipun aku yakin Athena bakal lebih suka begitu karena penulis mana yang ingin karyanya luput dari pengetahuan?
Lagipula, Athena kusebut di halaman ucapan terima kasihku.

Saat membaca alasan-alasan yang dilempar June ke kita sebagai pembaca, saya hanya bisa tertawa getir.

Mau bagaimanapun June mencoba membenarkan tindakannya, yang dia lakukan tetaplah sebuah pencurian.

Manuskrip baru jadi milik Athena, yang seharusnya bisa diserahkan ke agen penulis, malah diembat sendiri oleh June.

June memendam rasa iri dan ingin mencicipi bagaimana menjadi seorang Athena Liu yang dikerubungi kesuksesan.

Sekilas Mengenai Athena

Athena Liu.

27 tahun, kelahiran Hongkong, dibesarkan di Sydney dan New York, lulusan MFA (Master of Fine Arts) dari Yale.

Paras cantik. Kulit seputih porselen. Badan kurus dan jangkung.

The best part?

She is a teriffic writer.

Menerbitkan tiga buku (semuanya laku keras). Nominasi penghargaan bergengsi (Booker, Nebula, Hugo). Kontrak dengan Netflix untuk adaptasi film. 70.000 pengikut di media sosial.

Beauty and brains.

Sebagai penulis, dia punya segalanya.

Hal ini berbanding 180 derajat dengan pencapaian June, yang debut novelnya nge-flop dan kesulitan untuk menulis buku keduanya.

Maka sangatlah wajar apabila June iri dengan semua pencapaian Athena, baik sebagai individu maupun sebagai penulis.

Dinamika Dunia Penerbitan

Dalam dunia penerbitan, tidak ada istilah:

Rumput tetangga selalu lebih hijau.

Semua kacau balau, tiap orang punya beban kerja yang berlebih dan digaji rendah.

Untuk punya nama, penulis harus gigih untuk tetap terus mencoba sampai mendapat "jackpot".

Namun di sini, ada faktor x:

Penerbit memilih pemenang. Seseorang yang keren, dan cukup "beragam".

Kesuksesan sebuah buku, terlepas dari bagus tidaknya, berkaitan erat dengan identitas asal penulisnya.

Athena Liu, keturunan Cina-Amerika, sukses.

June Hayward, dengan nama pena Juniper Song, sukses.

Saya jujur kurang begitu memahami terkait isu "diversity" dalam dunia penerbitan ini dalam kehidupan nyata, tapi setidaknya itu yang betulan terjadi di universe dimana June Hayward dan Athena Liu berada.

Semua penulis berada di kolam yang sama.

Namun bisa jadi kamu adalah hiu, sementara yang lain adalah remora.

Bagaimana proses buku sebelum terbit?

Sebagai orang awam, melihat bagaimana Kuang menjelaskan bagaimana sebuah buku dari bentuk embrio berupa manuskrip hingga lahir menjadi novel utuh sangatlah menarik.

Urutannya: Penulis -> Agen -> Editor -> Penerbit

Penulis merangkai manuskrip untuk diserahkan ke agen.

Agen lalu menyebarkan manuskrip penulis ke beberapa editor dari penerbit berbeda.

Para penerbit ini lalu melakukan "perang harga" dimana penulis akan memilih penerbit dengan tawaran paling menarik.

Setelahnya dijelaskan juga bagaimana penulis mendapatkan uang dari buku, proses promosinya, proses penyuntingan manuskripnya, pemilihan sampulnya, dan banyak hal lain.

Penerbit bahkan menyewa jasa seorang "Pembaca Sensitivitas", untuk memastikan konten yang dimuat tidak offensive bagi kelompok masyarakat tertentu.

Nama penerbit di dunia nyata pun ikut bermunculan seperti Penguin Random House, HarperCollins, Eden Press, Simon & Schuster, dan lain-lain

Beli Buku Yellowface

Kamu bisa mendapatkan buku Yellowface ini di lokapasar berikut mulai dari harga Rp107.100:

Mengenai R. F. Kuang

Rebecca F. Kuang adalah penulis keturunan Tionghoa-Amerika yang lahir di Guangzhou, China, pada 29 Mei 1996. Ia pindah ke Amerika Serikat bersama keluarganya saat masih berusia empat tahun dan tumbuh besar di Dallas, Texas.

Kuang mulai menulis novel pertamanya, The Poppy War, pada 2018 di saat usianya baru menyentuh 21 tahun.

Karya-karyanya yang lain termasuk Babel: An Arcane History (2022) yang meraih Nebula Award dan menduduki posisi pertama New York Times Bestseller List, serta Yellowface (2023).

Di luar dunia tulis-menulis, Kuang adalah seorang akademisi. Ia meraih MPhil dalam Chinese Studies dari Cambridge sebagai penerima Marshall Scholarship, kemudian melanjutkan dengan MSc dalam Contemporary Chinese Studies dari Oxford, dan kini tengah menempuh PhD di bidang East Asian Languages and Literatures di Yale.

Hingga saat ini, karya-karyanya telah memenangkan berbagai penghargaan bergengsi termasuk Nebula, Locus, Crawford, dan British Book Awards — menjadikannya salah satu penulis paling berpengaruh dari generasinya.

Posting Komentar